BAB
I
PENDAHULUAN
Perekonomian yang ideal adalah perekonomian yang
terus menerus bertumbuh, tanpa satu tahun atau bahkan satu triwulan pun
mengalami penurunan. Pertumbuhan tersebut disertai stabilitas harga dan
kesempatan kerja yang terbuka luas neraca perdagangan dan neraca pembayaran pun
mengalami surplus yang baik. Perekonomian seperti ini dipercaya akan mampu
memberikan kemakmuran dan keadilan bagi rakyatnya dari generasi ke generasi.
Dalam dunia nyata, perekonomian umumnya
mengalami gelombang pasang surut. Gelombang naik turun tersebut relatif teratur
dan terjadi berulang-ulang dengan rentang waktu yang bervariasi. Ada yang
berdurasi pendek, panjang dan sangat panjang. Dalam ilmu ekonomi, gerak naik
turun tersebut dikenal dengan siklus ekonomi (business cycle)
Kegiatan
dalam perekonomian berfluktuasi dari tahun ke tahun. Selain itu juga dalam perekonomian mempunyai siklus
ekonomi. Di era modernisasi ini produksi barang dan jasa meningkat oleh karena
itu berpengaruh juga semakin meningkatnya jumlah tenaga kerja, meningkatnya
jumlah modal dan berbagai kemajuan teknologi. Pertumbuhan ekonomi ini membuat
semua orang dapat hidup dengan standar yang lebih tinggi. Pada saat itu
perusahan gagal menjual seluruh barang dan jasa yang harus mereka tawarkan,
sehingga produksi harus dikurangi. Dampaknya, para pekerja dirumahkan, angka
pengangguran meningkat, dan pabrik-pabrik terpaksa berhenti beroperasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi Siklus
Ekonomi
Siklus ekonomi dapat digambarkan sebagai gelombang
naik-turun aktivitas, yang terdiri atas empat elemen. Indikator yang biasa
digunakan untuk menganalisa siklus ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi atau
jumlah output riil dan tingkat harga.
Anatomi terdiri atas 4 elemen yaitu:
1.
Gerakan menaik
(Upturn atau Expansion)
Pemulihan
ekonomi ditandai dengan gerakan perekonomian yang menaik. Kadang – kadang
gerakan menaik ini disebut juga ekspansi bila gerakan menaik ini terjadi selama
minimal dua triwulan berturut – turut.
2.
Titik puncak atau
kulminasi (Peak)
Ekspansi
ekonomi tidak akan terjadi selamanya, suatu ketika gerakan menaik ini mencapai
titik tertinggi. Titik ini disebut titik puncak atau kulminasi. Setelah
mencapai titik kulminasi, perekonomian akan mengalami penurunan kembali.
3.
Gerakan menurun
(Downturn)
Yang
dimaksud dengan gerak menurun adalah menurunnya output yang dilihat dari
menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi. Kadang – kadang gerakan penurunan ini disebut resesi, bila terjadi selama
minimal dua triwulan berturut – turut.
4.
Titik terendah atau
nadir (Trough)
Gerakan
menurun akan berlanjut hingga mencapai titik yang paling rendah, yang disebut
titik nadir. Setelah mencapai titik nadir, perekonomian akan pulih kembali
dilihat dari adanya gerakan menaik.
2.2 Durasi Siklus dan Faktor-faktor yang
mempengaruhinya
Waktu
yang dibutuhkan dalam pergerakan satu siklus telah lama menjadi pengamatan para
ahli ekonomi. Mereka menemukan beberapa variasi siklus.
1.
Siklus jangka
pendek (Kitchin Cycle)
Durasi siklus jangka pendek sekitar 40 bulan. Pola
siklus ini ditemukan oleh Joseph Kitchin (1923). Itulah sebabnya siklus ini
dinamakan siklus Kitchin (Kitchin cycle). Faktor – faktor yang diduga
mempengaruhi siklus jangka pendek adalah pengaruh alamiah dan adat – istiadat
atau kebiasaan.
2.
Siklus jangka menengah (Juglar Cycle)
Durasi siklus jangka menengah adalah berkisar 7-11 tahun. Pola siklus ini
pertama kali ditemukan oleh Clement Jugalar (1860)
3.
Siklus jangka panjang (Kondratief Cycle)
Pola siklus jangka panjang pertama kali ditemukan oleh Nikolai D. Kondratief
(1925). Durasi siklusnya berkisar 48-60 tahun.
2.3 Siklus Ekonomi, kesempatan kerja dan inflasi
a. Siklus ekonomi
dan kesempatan kerja
Secara umum ada hubungan positif antara tingkat output
dengan kesempatan kerja, terutama bila analisanya jangka pendek. Sebab,
dalam jangka pendek teknologi dianggap konstan, barang modal merupakan input
tetap. Sedangkan yang dianggap variabel adalah tenaga kerja. Karenanya pengaruh
siklus sangat terasa bagi kesempatan kerja.
b. Siklus ekonomi dan inflasi
Jika output riil lebih kecil dari output natural ,
inflasi cenderung menurun dan begitu pula sebaliknya jia output riil lebih
besar dari output natural maka inflasi cenderung meningkat. Karenanya pengaruh
siklus sangat berpengaruh terhadap inflasi.
2.4 Pengelolaan
Siklus Ekonomi
Karena siklus ekonomi tidak terhindari, yang dapat
dilakukan adalah mengelola siklus agar dampak negatifnya dapat ditekan
seminimal mungkin, sementara pola siklus diusahakan stabil meningkat. Dalam
arti, simpangan gerak naik – turun output diusahakan tidak terlalu lebar,
sementara kecenderungan output jangka panjang terus meningkat.
A.
Kebijakan jangka pendek
Target utama jangka pendek adalah mengatasi
perbedaan output riil dengan output natural.
Mengubah kondisi output agar tidak terlalu besar
maka dapat dilakukan dengan kebijakan fiskal dan moneter, yang memengaruhi
permintaan dan penawaran jangka pendek
·
Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal bertujuan menstabilkan
perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar.
Instrument utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Dengan
kebijakan fiskal pemerintah dapat mengusahakan terhindarnya perekonomian dari
keadaan-keadaan yang tidak diinginkan. Seperti keadaan dimana banyak
pengangguran, inflasi, neraca pembayaran internasional yang terus menerus
defisit dan sebagainya.
·
Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter pada dasarnya bertujuan untuk
mencapai kebijakan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga,
pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca
pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilitas
ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta
neraca pembayaran internasional yang seimbang.
B.
Kebijakan jangka
panjang
Target yang ingin dicapai dalam jangka panjang,
selain memperkecil simpangan tingkat pertumbuhan ekonomi, juga pencapaian
pertumbuhan yang tinggi. Sebab, simpangan yang kecil tidak banyak artinya jika
perekonomian bertumbuh lamban. Untuk mengubah kondisi stabil stagnan ke kondisi
stabil dengan pertumbuhan dapat digunakan peralatan kebijakan fiskal dan
moneter. Jika dalam jangka pendek penekanan tujuan kebijakan fiskal dan moneter
adalah stimulasi permintaan, maka dalam jangka panjang lebih diarahkan kepada
stimulasi penawaran. Contohnya seperti, pemberian kredit kepada UKM (Usaha
Kecil Menengah), alokasi anggaran yang lebih besar kepada
pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan kualitas SDM dan kesehatan.
2.5 Siklus Ekonomi di Indonesia
Siklus ekonomi Indonesia akan sangat menarik bila dibahasa secara
menyeluruh. Namun, penafsiran siklus tersebut
membutuhkan teori-teori tingkat lanjut. Maka dalam penjelasan kali ini, kami
hanya melihat siklus ekonomi dari indikator PDB (Produk Domestic Bruto) riil dan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 1990 Triwulan I
– 1999 Triwulan IV ketika krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1988.
Selama periode 1990-an, resesi terjadi pada triwulan
pertama dan kedua pada tahun 1998. Resesi ini menandai dimulainya krisis ekonomi Indonesia, setelah
diawali krisis nilai tukar rupiah pada tahun pertengahan 1997. memasuki tahun
1999, perekonomian tidak mengalami penurunan output lagi, sedangkan tahun 2000
output sudah mulai tumbuh kembali. Namun tingkat pertumbuhan masih dibawah rata-rata
1990-1999.
Yang menjadi pertanyaan adalah
mengapa perekonomian Indonesia tiba-tiba mengalami krisis,setelah menikmati
pertumbuhan jangka panjang selama sekitar tiga dasawarsa?Ada berbagai jawaban
atas pertanyaan ini.Salah satu jawabannya adalah krisis ekonomi Indonesia
merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar yang ditempuh pemerintah.Resiko dari
mekanisme pasar adalah kegagalan pasar (market failure) ,yang disebabkan
ketidak sempurnaan informasi (inperfect information) dan atau penyimpangan moral
(moral hazard).
Memasuki periode 1980-an pemerintah
mulai mengurangi perannya dalam memacu pertumbuhan ekonomi.Tampaknya secara
bertahap pasar diberikan keleluasaan dalam berkerja agar alokasi sumber daya
ekonomi makin efisien. Mekanisme pasar juga meningkatkan kemampuan individu
(produsen dan atau konsumen) untuk mengoptimalkan dirinya. Kemampuan
optimalisasi individu ini dipercaya akan memberikan sumbangan positif terhadap
perekonomian.
Proses peleluasaan pasar dimulai
dengan liberalisasi sektor perbankan 1983,yang diikuti langkah-langkah
liberalisasi dan deregulasi selanjutnya.Memasuki periode tahun 1990-an
langkah-langkah tersebut tampaknya membuahkan hasil,dilihat dari pertumbuhan
ekonomi yang tinggi.Jika lokomotif pertumbuhan periode 1970-an adalah sektor
pemerintah,maka lokomotif pertumbuhan periode 1990-an adalah sektor swasta.
Kunci dari
pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah tingginya investasi selama periode
1990-an yang hampir mencapai 40% PDB.Sebagian besar investasi tersebut
merupakan investasi swasta.Investasi ini umumnya berasal dari hutang,baik
domestik maupun luar negeri.Selama periode 1990-an pertumbuhan hutang luar
negeri swasta melebihi tingkat pertumbuhan ekonomi.Sedangkan utang sektor
swasta terhadap perbankan domestik juga meningkat pesat.
Membengkaknya utang sektor swasta
menunjukan bahwa industri keuangan domestik maupun asing begitu mempercayai
sektor swasta Indonesia.Jika kepercayaan ini ternyata salah dapat dijelaskan
bahwa dalam dunia nyata informasi yang diterima pemberi pinjaman tidak sempurna
(inperfect information) atau telah terjadi penyimpangan moral dikalangan
perlaku ekonomi indonesia.Hal-hal ini lah yang meyebabkan kegagalan pasar
sebagai alat alokasi sumber daya yang efisien.
Salah satu wujud kegagalan pasar
adalah salah alokasi investasi.Sebagian besar utang swasta disalurkan untuk
kegiatan ekonomi yang tidak menghasilkan devisa,terutama sektor properti.Salah
alokasi ini lah yang memicu krisis nilai tuar rupiah,yakni memburuknya nilai
tukar rupiah.Krisis nilai tukar rupiah merupakan konsekuensi dari penggunaan
mekanisme pasar.Sebab memburuknya nilai tukar rupiah mengindikasikan terjadinya
kelebihan permintaan valuta asing,terutama US$.Kelebihan permintaaan ini
berkaitan dengan jatuh temponya utang luar negeri swasta,sedangkan kemampuan
membayar tidak ada.Krisis nilai tukar rupiah diperburuk oleh krisis kepercayaan
dan krisis politik yan g akhirnya bermuara kepada krisis ekonomi.
2.6
Posisi Indonesia dalam Siklus Ekonomi
Perekonomian Indonesia pada akhir tahun 2014 (masa
akhir jabatan SBY-Boediono). Indonesia sejak dulu yang terus berjibaku dengan
siklus ekonomi kerakyatan berdasarkan Pancasila yang seperti ini, terutama
dalam pembahasan tentang ketenagakerjaan dan SDM akan semakin berada pada
tantangan-tantangan yang semakin kompleks. Akan tetapi dengan sebuah
rekomendasi dan solusi dari sebuah permasalahan (ketenagakerjaan dan SDM) akan
mampu mengurangi permasalah di akhir tahun 2014 dan dengan peningkatan kualitas
ketenagakerjaan dan SDM mendatang akan meningkatkan perekonomian Indonesia.
Pada akhir 2014 jika dilihat dari perkembangan
yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam penanganannya tentang
ketenagakerjaan dan juga SDM, pemerintah telah berupaya untuk mengurangi
tingkat pengangguran dan juga memperluas pembentukan lapangan pekerjaan yang
baru untuk dapat menyerap angkatan kerja yang masih belum terserap oleh
lapangan kerja yang sebelumnya. Diiyakini Indonesia pada pemerintahan kali ini
akan membawa sebuah perkembangan dan siklus yang lebih baik dalam bidang perekonomian
Indonesia yang patutnya kali ini tidak akan dipandang oleh sebelah mata bagi
negara-nagara lain. Karena mulai saat ini perekonomian Indonesia sudah mulai
bangkit dan siap berkompetisi dengan negara lain dalam hal stabilitas ekonomi
politik bangsa.
BAB
III
PENUTUP
Sebagai penutup, saya ingin
menyatakan kembali bahwa Siklus Ekonomi memang sangat banyak mempengaruhi
kebijakan – kebijakan perkonomian suatu Negara. Dapat disimpulkan siklus
ekonomi mengandung arti pasang surutnya kegiatan ekonomi yang terjadi seputar
kecenderungan jangka panjang, setelah dilakukan penyesuaian musiman. Fluktuasi
semacam ini dapat dijumpai sebagian besar rangkaian peristiwa ekonomi atau seri
ekonomi (economy series).
BAB
IV
DAFTAR
PUSTAKA
1. Rahardja, Prathama
Pengantar
Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi & Makroekonomi),edisi ketiga/Prathama Rahardja,
Mandala Manurung – Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomo Universitas
Indonesia.2008.
2. Joesron, Tati Suhartati; Fathorrazi, M.
TEORI
EKONOMI MIKRO/Tatti Suhartati Joesron; M. Fathorrazi – Edisi Pertama –
Yogyakarta; Graha Ilmu, 2012
3. Sukirno, Sadono
Mikroekonomi Teori Pengantar/Sadono Sukirno – Ed. 3 –
cet. 26. – Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar