PERMASALAHAN
PEMASARAN DALAM BERWIRAUSAHA
Suatu jenis usaha yang
mampu bertahan dalam menghadapi segala permasalahan yang ada dan mampu menang
dalam persaingan bisnis adalah mereka yang mampu membaca peluang pasar dengan
memenuhinya dan memproduksi apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Suatu usaha yang
berhasil mencapai tujuannya sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam
memasarkan barang dan jasa. Hal ini adalah tugas dari fungsi pemasaran untuk
jeli membaca setiap peluang yang ada dalam memenuhi kebutuhan pelanggan serta
memasarkan produknya. Pemasaran sering dianggap sebagai salah satu kendala yang
kritis bagi perkembangan suatu usaha seperti pada UKM pada saat memulai
usahanya. Di dalam hal ini para wirausahawan haruslah jeli dan mencari jalan
yang dianggap paling jitu untuk mengantisipasi kegagalan pemasaran di dalam
berwirausaha tersebut. Kesalahan Pemasaran pada dasarnya akan berpengaruh
langsung terhadap omset penjualan suatu produk yang ditawarkan.
KENDALA-KENDALA
PEMASARAN
Kendala dalam pemasaran ini juga dapat
disebut asal mula dari kasus kasus dalam pemasaran. Di dalam kendala pemasaran
di bagi menjadi dua aspek yaitu aspek internal dan aspek eksternal.
A. Kendala Internal
Jika di lihat dari aspek internal
permasalahan pemasaran di dalam berwirausaha yakni sebagai berikut :
1. Perencanaan strategi pemasaran
tidak matang.
Perencanaan strategi pemasaran sering
tidak diperhatikan oleh para wirausahawan. Mereka melakukan distribusi
pemasaran produk miliknya tidak berdasarkan aspek-aspek pemasaran tertentu dan
tanpa direncanakan terlebih dahulu. strategi pemasaran tidak dibuat secara
matang akan menimbulkan pemasaran tidak diorientasikan kepada pelanggan dan
membuat produk tersebut tidak laku dijual.
2. Target pasar yang terlalu lebar
Target pasar yang terlalu lebar pada
dasarnya merupakan kesalahan di dalam perencanaan suatu usaha yang tidak
dipertimbangkan terlebih dahulu. para pebisnis biasanya menetapkan tujuan
target pemasaran kepada semua orang, mereka hanya berpikiran hanya ingin
memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya di dalam usahanya itu tanpa memikirkan
faktor-faktor lainnya. jikapun produk dan atau jasa yang ditawarkan bisa
digunakan oleh semua orang, namun perlu kita ketahui tidak semua orang datang
untuk membeli produk kita maka dari hal itu perlu ada spesifikasi pasar khusus
untuk menempatkan produk kita dimana ditempat itu produk kita dibutuhkan oleh
banyak orang.
3. Target pasar yang salah
Target pasar yang salah merupakan
suatu hal yang sering terjadi di dalam berwirausaha. Seharusnya perlu
perencanaan yang matang sebelum menetapkan target pasar ataupun target
konsumen. para wirausahawan kadang menjual produknya ke sasaran konsumen yang
tidak tepat, hal ini membuat produk yang ditawarkan tidak diminati oleh
konsumen. Misalnya, seorang pengusaha menjual produk lukisan dan target
pasarnya adalah masyarakat di daerah pemukiman yang mereka berpenghasilan
pas-pas-an ataupun pada daerah kumuh. Sudah dapat dipastikan omset penjualan
produk mereka akan sangat rendah.
4. Tidak melaksanakan bauran pemasaran
(Marketing Mix) secara optimal.
Yaitu tidak ada pengujian efektivitas
iklan, harga, kemasan produk. Biasanya seorang wirausahawan di dalam pembuatan
iklan tidak efektif atau dalam kata lain dapat disebutkan iklan yang dibuat
tersebut tidak membuat para konsumen yang berpotensi sadar akan barang atau jasa
tertentu dan kebutuhan mereka akan barang dan jasa tersebut selain hal tersebut
para wirausahawan kita biasanya tidak bisa memahami kebutuhan pelanggan.
Seorang wirausahawan kadang tidak mengetahui apa yang paling penting buat
pelanggan atau konsumennya. Walaupun, harga yang ditawarkan murah dan barangnya
berkualitas, kadang seorang wirausaha tidak melaksanakan pelayanan yang baik
cepat dan memuaskan. Selain hal tersebut kadang para wirausahawan tidak
memperhatikan tempat atau lokasi di dalam hal penawaran produknya padahal hal
ini sangatlah penting sebagai pendukung tingginya tingkat penghasilan para
wirausahawan.
5. Masalah
pemasaran yang dipengaruhi oleh harga.
Yang merupakan bagian dari bauran
pemasaran, wirausahawan kita di dalam penawaran harga produknya sering
memberikan penawaran harga yang tidak terjangkau, ataupun yang terjadi adalah
kesalahan penetapan harga oleh para wirausaha. Dan menganggap harga merupakan
variabel terpisah dari bauran pemasaran yang lain, bukan merupakan unsur
intrinsik dari segi penentuan posisi pasar.
6. Sasaran
dan tujuan yang kurang tepat.
Setiap usaha baru hendaknya menetapkan
sasaran dan tujuan yang akan menuntun perusahaan melalui pembuatan keputusan
jangka panjang. Tujuan atau sasaran tersebut berisi pernyataan yang melibatkan
manajemen dan program pemasaran pada arah yang terbatas. Sasaran atau tujuan
tersebut mudah mengalami perubahan oleh wiraswastawan dan dianggap bisa
dikendalikan. Akan tetapi, harus dipahami bahwa tujuan dan sasaran adalah
berarti garis pedoman jangka panjang dan perubahan konstan akan menunjukkan
ketidakstabilan dan ketidakamanan bagian manajemen.
7. Jumlah
pemasok yang tidak mencukupi.
Pemasok yang digunakan umumnya
didasarkan pada sejumlah faktor, seperti harga, waktu penyerahan, kualitas,
bantuan manajemen, dan lain-lain. Pada beberapa kasus, di mana bahan mentah
langka atau hanya ada beberapa pemasok bahan mentah atau suku cadang tertentu,
wiraswastawan mempunyai kendali yang kecil atas keputusan. Karena harga
pasokan, waktu penyerahan, dan lain-lain mempunyai dampak pada banyak keputusan
pemasaran, penting sekali memasukkan faktor-faktor tersebut dalam rencana
pemasaran.
8. Manajemen
yang tidak terorganisir.
Sangat penting bagi suatu organisasi
jika ingin memproduksi sebuah barang/jasa yang baru untuk memberikan tanggung
jawab terhadap dampak dalam perencanaan pasar dari wiraswastawan. Banyak
pemasaran yang di launching tanpa melakukan manajemen apapun. Hal ini berdampak
fatal bagi para wiraswastawan.
9. Recana
finansial yang tidak diatur secara matang.
Dalam sebuah pemasaran produk baru,
hal yang paling penting adalah mengatur finansial serta memikirkannya secara
matang dan rapi. Rencana finansial hendaknya menguraikan kebutuhan finansial
dari usaha baru tersebut.
B. Kendala Eksternal
Sedangkan kendala eksternal pemasaran
di dalam berwirausaha dapat di rinci sebagai berikut:
1.
Tekanan-tekanan
persaingan.
Baik di pasar domestik dari
produk-produk serupa buatan UB dan impor, maupun di pasar ekspor. Saat ini, di
Negara-negara Asia yang terkena krisis seperti Indonesia, Filipina dan korea
selatan, masalah pemasaran bisa menjadi masalah serius, karena sebagai salah
satu efek dari krisis tersebut akses ke kredit bank menjadi sulit (kalau tidak
dapat dikatakan tertutup sama sekali).
2.
Kekurangan informasi yang akurat dan up to
date.
Mengenai peluang-peluang pasar di
dalam maupun diluar negeri dan peraturan-peraturan mengenai tata niaga
pemasaran regional atau internasional di dalam konteks AFTA, Masyarakat Eropa
(UE) dan WTO / GATT dan aspek-aspek legal lain seperti kesepakatan-kesepakatan
internasional mengenai larangan penggunaan buruh, anak-anak, lingkungan hidup,
dan hak asasi manusia (HAM) yang dikaitkan dengan perdagangan internasional.
3.
Dumping dan Anti Dumping.
Kebijakan ini membuat para pengusaha
kita manjadi terhambat di dalam menembus pasar global atau paling tidak dapat
mempertahankan pangsa ekspor ke luar negeri. Dengan kebijakan Dumping ataupun
Anti Dumping negara tujuan ekspor para wirausahawan mampu menjual barang yang
serupa seperti yang kita ekspor dengan harga yang lebih murah ataupun
sebaliknya mereka membeli barang ekspor wirausahawan kita dengan harga yang
sangat murah.
4.
Masalah pada lingkungan
kebudayaan.
Evaluasi perubahan kebudayaan mungkin
mempertimbangkan pergeseran pada populasi menurut demografi (contohnya, dampak
ledakan penduduk atau pertumbuhan para manula dalam komposisi penduduk),
perubahan sikap (seperti cintailah produk buatan dalam negeri), kecenderungan
dalam kecelakaan kerja, tuntutan upah minimum, kesehatan, dan nutrisi. Semuanya
mungkin mempunyai implementasi perencanaan. Pada beberapa kasus, ketersediaan
para ahli tertentu mungkin tidak bisa dikendalikan (misalnya kelangkaan tipe
manajer teknis). Wiraswastawan harus membangun tim manajemen efektif dan
memberikan tanggung jawab kepada mereka untuk mengimplementasikan rencana
pemasaran.
5.
Timbulnya rasa
persaingan ataupun lingkungan saing.
Sebagian besar wiraswastawan umumnya
menghadapi ancaman potensial dari perusahaan yang lebih besar. Wiraswastawan
harus bersiap-siap dengan ancaman tersebut dan hendaknya membuat rencana
pemasaran yang menguraikan strategi paling efektif dalam lingkungan persaingan.
6.
Kekurangan dan tidak
meneliti bahan mentah yang dibutuhkan.
Juga cukup sulit untuk meramalkan
kekurangan bahan mentah. Adalah gagasan baik bagi wiraswastawan untuk membentuk
hubungan kuat dengan pemasok dan sensitif terhadap ancaman adanya kelangkaan
bahan mentah. Jika terdapat kelangkaan bahan mentah, wiraswastawan harus
membuat perencanaan sumber alternatif dari bahan mentah tersebut. Banyak usaha
pemula berakhir karena kelangkaan bahan mentah. Mungkin sangat sulit
mendapatkan sumber alternatif yang mapan. Akan tetapi, kesadaran akan resiko
akan menyelamatkan wiraswastawan dalam mempertahankan usahanya dan memungkinkan
mereka mendiversifikasi usahanya atau menutup usaha sebelum mengalami kerugian
besar.
Dan berikut ini adalah beberapa
masalah pemasaran yang sering timbul di sekitar kita, sebagai berikut :
·
Rendahnya kemampuan
tawar-menawar.
Kemampuan wirausaha dalam penawaran
produk yang dihasilkan masih terbatas karena keterbatasan modal yang dimiliki,
sehingga ada kecenderungan produk-produk yang dihasilkan dijual dengan harga
yang rendah.
·
Kurang tersedianya
informasi pasar.
Informasi pasar merupakan faktor yang
menentukan apa yang diproduksi, di mana, mengapa, bagaimana dan untuk siapa
produk dijual. Dengan keuntungan terbaik. Oleh sebab itu informasi pasar yang
tepat dapat mengurangi resiko usaha sehingga pedagang dapat beroperasi dengan
margin pemasaran yang rendah dan memberikan keuntungan bagi pedagang itu
sendiri, produsen dan konsumen.
·
Rendahnya kualitas
sumber daya manusia
Sumber daya manusia, khususnya untuk
para wirausahawan di daerah pedesaan masih sangat rendah. Rendahnya kualitas
sumber daya manusia ini tidak pula didukung oleh fasilitas pelatihan yang
memadai, sehingga penanganan produk masih belum baik.
·
Kurang jelasnya jaringan
pemasaran.
Produsen dan/atau pedagang dari daerah
sulit untuk menembus jaringan pemasaran yang ada di daerah lain karena
pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan pemasaran tersebut dan tempat kegiatan
berlangsung tidak diketahui. Di samping itu, tidak diketahui pula aturan-aturan
yang berlaku dalam sistem tersebut. Hal ini menyebabkan produksi yang
dihasilkan mengalami hambatan dalam hal perluasan jaringan pemasaran.
·
Berfluktuasinya harga.
Harga produksi hasil pangan yang
selalu berfluktuasi tergantung dari perubahan yang terjadi pada permintaan dan
penawaran. Naik turunnya harga dapat terjadi dalam jangka pendek yaitu per
bulan, per minggu bahkan perhari atau dapat pula terjadi dalam jangka panjang.
Pada saat musim produk melimpah harga rendah, sebaliknya pada saat tidak musim harga meningkat
drastis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar